SUMATERA UTARA — Cazorla, rekan setim Arteta di Arsenal, menceritakan pengalaman unik itu dalam sebuah wawancara. “Saat kami cedera, kami biasa nonton bareng di rumah. Dia ambil remote dan pause pertandingan. Saya bilang: ‘Kenapa distop?’ Dia jawab: ‘Putar balik 30 detik. Apa yang kamu lihat?’ Saya bilang: ‘Saya lihat layar diam. Saya tidak lihat apa-apa!’”
Arteta lalu menjelaskan soal posisi pemain yang salah, ruang yang terbuka, atau garis pertahanan yang seharusnya lebih dalam. “Saya lihat dia dan berpikir: ‘Ada apa dengan orang ini?’” kata Cazorla. “Dia sudah jadi pelatih sejak saat itu. Pertandingan selesai, kami baru sampai menit ke-35. Saya pikir itu sebuah bakat.”
Dari Antiguoko ke La Masia: Mata yang ‘Hidup’ Sejak Kecil
Sebelum menjadi arsitek permainan di Emirates, Arteta kecil sudah menunjukkan keistimewaan di Antiguoko, klub junior San Sebastián. Jon Ayerbe, rekannya satu tim, menggambarkan Arteta sebagai anak yang “hidup” — terlihat dari matanya. “Dia menangkap semuanya cepat, punya karakter, dan sangat kompetitif. Beri dia bola, dia akan cari solusi. Dan dia setahun lebih muda dari kami,” ujar Ayerbe.
Álvaro Parra menambahkan, “Di atas segalanya, dia yang paling cerdas.” Mikel Yanguas, yang juga bermain bersama Arteta, mengingat kesan pertama: “Kamu lihat dia dan berpikir: ‘Dia punya sesuatu yang spesial. Kalau ada yang sukses, itu dia.’”
Bakat itu membawa Arteta ke Barcelona pada 1997. Bersama Yanguas dan Jon Álvarez, ia tinggal di La Masia. “Kami berangkat 17 Agustus, hari festival San Sebastián,” kenang Yanguas. Di asrama itu, ia satu atap dengan Andrés Iniesta, Carles Puyol, dan Pepe Reina. Roberto Trashorras, teman sekamar Arteta, mengingat masa-masa tanpa ponsel, antre telepon di malam hari, dan harus mengatur semuanya sendiri.
Dua Kaki, Satu Visi: Dari Nomor 10 Jadi Nomor 4
Arteta punya pilihan lain: tenis. Ayahnya memaksa ia memilih satu olahraga. Roberto Montiel, mantan pelatih Antiguoko, masih ingat gol Arteta ke gawang Real Sociedad yang “mengingatkannya pada Messi” — penuh kelicikan dan teknik. Saat itu Arteta masih kecil, berkaki dua, berposisi sebagai gelandang serang (No 10) yang kelak turun jadi gelandang bertahan (No 4).
“Dia atlet bawaan,” kata Montiel. Parra menambahkan, “Dia selalu yakin akan sukses dan mengorbankan hidup untuk itu. Dia pergi ke Barcelona, meninggalkan segalanya. Dan kemudian dia menolak tawaran menggiurkan dari Dubai, Qatar, dan Amerika untuk bekerja dengan Guardiola di Man City karena itu langkah yang tepat.”
Di Athletic Club, José Luis Mendilibar melihat anak yang tak pernah kehilangan bola dan selalu bermain dengan kejelasan. “Apa yang bisa kamu bayangkan sekarang adalah seseorang dengan kecerdasan dan pemahaman itu juga akan mampu menjelaskannya kepada orang lain,” tulis Mendilibar. Luis Fernández, pelatih yang memboyong Arteta ke PSG di usia 18 tahun, menambahkan: “Saat Anda bilang apa yang Anda mau, dia langsung melakukannya sekali coba.”