SUMATERA UTARA — Laju indeks IDX BUMN20 yang menjadi barometer saham perusahaan pelat merah menunjukkan performa suram. Secara harian, indeks ini masih melemah 0,56% pada penutupan perdagangan kemarin. Kondisi ini mencerminkan tekanan yang masih membayangi saham-saham unggulan BUMN, termasuk PT Pertamina (Persero), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, dan PT PLN (Persero).
Dividen Jadi Andalan di Tengah Lesu Pasar
Dengan pergerakan harga saham yang belum menarik, analis pasar menilai investor kini lebih rasional mengalihkan fokus pada pendapatan dividen. Emiten BUMN dengan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) tinggi dan laba bersih yang solid menjadi target utama.
“Ketika harga saham sedang tidak seksi, yield dividen menjadi jaring pengaman. Investor tidak perlu menjual aset di harga rendah, cukup mengantongi dividen tunai yang dibagikan tahunan,” ujar seorang analis pasar modal dalam risetnya.
Kinerja Keuangan dan Potensi Dividen Emiten BUMN
Sepanjang 2025, sejumlah emiten BUMN mencatatkan laba bersih yang kokoh. Pertamina misalnya, membukukan laba bersih konsolidasian di atas Rp 30 triliun, didorong oleh kenaikan harga minyak dan efisiensi operasional. BRI juga mencatat pertumbuhan laba double digit berkat ekspansi kredit ke sektor UMKM, sementara Telkom tetap menjadi primadona dividen dengan payout ratio konsisten di atas 70%.
Dividen dari emiten-emiten ini dianggap lebih terprediksi dibandingkan fluktuasi harga saham jangka pendek. Investor institusi dan dana pensiun biasanya menjadi pemburu utama dividen BUMN karena kebutuhan arus kas tetap.
Apa yang Membebani Saham BUMN20?
Pelemahan indeks BUMN20 tidak lepas dari sentimen eksternal dan internal. Secara global, tekanan inflasi dan suku bunga tinggi di Amerika Serikat masih membuat investor asing cenderung wait and see terhadap pasar emerging market, termasuk Indonesia. Di dalam negeri, kekhawatiran terhadap belanja modal dan utang beberapa BUMN juga turut menekan harga saham.
Meski demikian, bagi investor jangka panjang, koreksi ini justru bisa menjadi peluang akumulasi. Dengan harga yang lebih rendah, yield dividen yang didapatkan menjadi lebih tinggi jika dibandingkan saat harga saham sedang di puncak.
Kesimpulannya, meskipun pasar saham BUMN tengah lesu, investor tidak kehilangan opsi untuk meraih keuntungan. Berburu dividen dari emiten seperti Pertamina, BRI, dan Telkom menjadi strategi defensif yang relevan di tengah volatilitas indeks BUMN20 yang masih tinggi hingga pertengahan 2026.