MEDAN — Capaian itu diumumkan Kepala Dinas Kesehatan Sumut Muhammad Faisal Hasrimy, Jumat (29/5/2026). Dari tujuh indikator kinerja utama, lima di antaranya berhasil direalisasikan di atas 100 persen berdasarkan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) yang telah direviu Inspektorat Provsu.
“Ini buah dari kerja keras, sinergi, dan pendekatan holistik bersama instansi pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota,” ujar Faisal.
Prestasi paling menonjol terjadi pada sektor kesehatan ibu dan anak. Angka Kematian Ibu (AKI) di Sumut berhasil ditekan hingga 45,38 per 100.000 kelahiran hidup (KH). Angka itu jauh melampaui target awal sebesar 65,78 per 100.000 KH, dengan capaian 131,01 persen.
Capaian ini juga berada jauh di bawah rata-rata nasional 2025 yang tercatat 85,17 per 100.000 KH. Penurunan AKI diikuti membaiknya Angka Kematian Bayi (AKB) yang terealisasi 3,20 per 1.000 kelahiran hidup, lebih baik dari target 3,28 per 1.000 KH.
Faisal menjelaskan, implementasi wajib pelaporan by name by address melalui Aplikasi Maternal Perinatal Death Notification (MPDN) dari Kementerian Kesehatan terbukti efektif. Sistem itu membantu fasilitas layanan kesehatan merespons cepat potensi risiko kematian ibu dan bayi.
Umur Harapan Hidup masyarakat Sumut pada 2025 mencapai 74,19 tahun, melampaui target perjanjian kinerja sebesar 74,01 tahun dengan capaian 100,24 persen. Tren positif ini konsisten: UHH tahun 2024 sebesar 73,90 tahun dan tahun 2023 sebesar 73,67 tahun.
“Meningkatnya usia harapan hidup ini sekaligus menjadi penanda bahwa kualitas hidup dan akses terhadap fasilitas kesehatan di Sumut semakin membaik,” kata Faisal.
Dinkes Sumut juga berhasil memperluas jaminan perlindungan sosial kesehatan. Indikator cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mencatat hasil 100,67 persen dari target 98,6 persen. Dengan capaian tersebut, Sumatera Utara mempertahankan status Universal Health Coverage (UHC), sehingga masyarakat tidak lagi terkendala biaya saat berobat.
Dari sisi mutu pelayanan, persentase fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) seperti puskesmas dan rumah sakit yang meraih akreditasi paripurna meningkat signifikan menjadi 53,96 persen, melampaui target 41,1 persen dengan capaian 131,29 persen.
Meski mencatat banyak capaian positif, Dinkes Sumut memberi perhatian khusus pada indikator angka kesakitan (morbiditas) yang terealisasi 10,43 persen dari target 10,03 persen, atau capaian 96,01 persen. Kondisi itu dipengaruhi tantangan perubahan lingkungan serta beban ganda penyakit menular dan tidak menular.
Sementara itu, untuk prevalensi stunting pada balita, Dinkes Sumut masih menunggu rilis resmi analisis data final dari Kementerian Kesehatan.
Keberhasilan sepanjang 2025 tidak membuat Pemprovsu berpuas diri. Tahun ini, Dinkes Sumut mengakselerasi berbagai program promotif dan preventif melalui perluasan akses layanan kesehatan primer berbasis digital, penguatan posyandu aktif di tingkat desa, serta intervensi gizi terpadu guna menuntaskan stunting secara holistik.
“Pemprovsu berkomitmen penuh memastikan bahwa status UHC dan peningkatan indeks kesehatan ini bukan sekadar pencapaian angka di atas kertas, melainkan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh setiap lapisan masyarakat Sumut,” ujar Faisal.