SUMATERA UTARA — Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menyebut capaian tiga bulan pertama tahun ini sebagai awal yang baik bagi implementasi strategi TLKM 30. Menurutnya, perusahaan akan semakin agresif menciptakan nilai optimal dan memperkuat keberlanjutan di tengah dinamika ekonomi.
"Kami ingin memberikan pencapaian dan kontribusi terbaik bagi perusahaan, pelanggan, masyarakat, dan negara," ujar Dian dalam keterangan resmi, pekan lalu.
Bisnis Digital dan Data Jadi Motor Pertumbuhan
Di segmen B2C, Telkomsel mencatat pendapatan Rp27,6 triliun, tumbuh 1,3 persen year-on-year. Pertumbuhan ini didorong oleh layanan digital dan kenaikan konsumsi data masyarakat.
Telkomsel berhasil menaikkan ARPU (pendapatan rata-rata per pelanggan) menjadi Rp45.100, melonjak 6,4 persen dibanding tahun lalu. Strategi disiplin harga, penyederhanaan produk, dan perbaikan pengalaman pelanggan disebut menjadi kunci.
"Konektivitas sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat. Permintaan layanan internet terus meningkat dan belum menunjukkan tanda penurunan," tambah Dian.
Bisnis Menara dan Data Center Ekspansi Agresif
Segmen B2B Infrastructure mencatat pertumbuhan paling tinggi. Pendapatan mencapai Rp2,4 triliun, naik 6,8 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspansi Fiber-to-the-Tower (FTTT) menjadi pendorong utama.
Mitratel, anak usaha yang mengelola menara telekomunikasi, membukukan pendapatan Rp2,3 triliun dengan margin EBITDA stabil di angka 82,7 persen. Selama kuartal pertama, Mitratel menambah 1.080 km jaringan fiber optik, sehingga total kepemilikannya kini 58.279 km.
Di lini data center, NeutraDC Group dan NeuCentrIX mencatatkan pendapatan dari fasilitas colocation dan edge data center. Permintaan layanan ini disebut terus meningkat seiring aktivitas pelaku industri digital yang semakin masif.
Telkom menyebut inisiatif konsolidasi di bisnis data center akan menjadi langkah strategis ke depan untuk memperkuat posisi di pasar yang sedang tumbuh.