MEDAN — Kepastian jadwal itu disampaikan Farianda usai rapat panitia di sebuah kafe di Medan, Kamis (17/9/2026) malam. Menurutnya, seluruh persiapan terus dimatangkan menjelang konferensi yang akan diikuti anggota PWI Sumut dari 33 kabupaten/kota.
Jumlah anggota PWI Sumut saat ini mencapai 900 orang. Angka itu naik setelah adanya pemekaran tiga daerah di provinsi tersebut.
Farianda menyebut tanggal 20-21 November 2026 belum final. Penentuan akhir bergantung pada kesiapan dana dan proses pencairan bantuan dari Pemprov Sumut yang masih berjalan.
"Tanggal itu tentatif, bisa maju bisa mundur karena SK PWI kan sampai bulan 12. Tergantung kesiapan dana. Alhamdulillah dapat bantuan dari Pemprov Sumut dan ini sedang berproses. Saat ini panitia terus bekerja dan Insya Allah bulan 10 pembukaan pendaftaran calon," ujar Farianda.
Sejauh ini ada tiga nama yang menyatakan siap bertarung memperebutkan kursi ketua PWI Sumut. Selain Farianda sendiri, muncul Rianto SH yang menjabat Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sumut, dan Austin Tumengkol.
Farianda mengakui persaingan akan berlangsung ketat karena konstituen tersebar di 33 kabupaten/kota. Ia meminta seluruh kandidat dan pendukung menjaga kontestasi tetap berjalan elegan.
"Yang baru deklarasi dan sudah melakukan silaturahmi ada tiga. Pertarungan 33 kabupaten/kota ini pertarungan yang luar biasa. Tidak mungkin tiga-tiganya, dua saja tidak mungkin, pasti bertarung," katanya.
Farianda menegaskan konferensi harus jadi pesta demokrasi yang menggembirakan. Ia melarang keras segala bentuk fitnah, perpecahan, dan bully di antara panitia maupun pendukung.
"Ini pesta demokrasi, harus betul-betul pesta yang bergembira ria, bersenang-senang. Yang diadu itu program, bukan masalah pribadi. Saya sampaikan berkali-kali kepada seluruh panitia, tidak boleh saling menjatuhkan. Jika itu terjadi, dosa tanggung masing-masing. Jangan habis konferensi jadi musuhan, saya tidak mau," tegasnya.
Ia juga mengaku sudah berkomunikasi dengan kandidat lain, termasuk Austin Tumengkol. Keduanya sepakat kontestasi dijalankan dengan adu gagasan dan program kerja.
"Kita harus mengedepankan persaudaraan, pertemanan, persahabatan karena kita satu wadah, PWI. Satu wadah ini berarti harus bersaudara, harus kompak, tidak boleh ada perpecahan," sambung Farianda.
Selama lima tahun memimpin, Farianda menyebut pihaknya fokus pada tiga hal: kesejahteraan, pendidikan, dan perlindungan anggota. Salah satu capaian yang ia soroti adalah perluasan kerja sama BPJS Ketenagakerjaan.
Semula jaminan hanya meng-cover 565 anggota. Kini jumlahnya bertambah menjadi 900 anggota untuk Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian.
Program lain yang sudah berjalan mencakup Uji Kompetensi Wartawan (UKW), Sekolah Jurnalistik, dan berbagai diklat. Farianda menyebut seluruh program itu akan dilanjutkan jika ia kembali terpilih.
Farianda menjelaskan kebijakan baru soal uang jaminan Rp500 ribu bagi peserta UKW. Menurutnya, itu bukan pungutan, melainkan alat pengikat komitmen peserta.
"Ini gratis. Uang Rp500 ribu itu dikembalikan setelah selesai. Tujuannya supaya serius. Karena selama ini kuota UKW 60 orang, yang daftar 60, tapi yang datang cuma 55, ada 5 yang tidak datang. Padahal yang betul-betul mau ikut jadi tidak bisa ikut karena kuota penuh. Kalau satu orang tidak datang, kita rugi Rp4 juta, kalau 10 orang Rp40 juta. Jadi uang jaminan itu supaya ada tanggung jawab, dan setelah selesai UKW pasti dikembalikan," pungkasnya.