Laporan BAN: Limbah Elektronik Pusat Data AI Capai 13 Juta Ton per Tahun 2030

Penulis: Nofrizal Hasan  •  Kamis, 17 September 2026 | 17:32:01 WIB

SUMATERA UTARA — Basel Action Network memproyeksikan limbah elektronik dari pusat data AI bisa menembus 13 juta ton per tahun pada 2030, atau cukup untuk memenuhi kontainer yang mengelilingi Bumi hingga enam kali. Laporan ini menghitung beban perangkat keras dari sekitar 100 gigawatt kapasitas komputasi baru yang diproyeksikan analis hingga akhir dekade. Tanpa perencanaan pengelolaan, ledakan infrastruktur AI berpotensi menjadi krisis limbah beracun yang lebih besar dari yang sudah terjadi saat ini.

Limbah tersebut umumnya mengandung bahan beracun seperti timbal, merkuri, kadmium, dan bahan kimia sulit terurai. Di dalamnya juga terdapat logam berharga yang selama ini sulit didaur ulang.

Bagaimana BAN Menghitung Volume Limbah

BAN menganalisis volume limbah dari server yang dipakai untuk AI, ditambah ribuan ton tembaga, baja, dan beton untuk sistem pendingin, distribusi daya, peralatan jaringan, serta penyimpanan daya. Perhitungan dimulai dari proyeksi analis soal sekitar 100 gigawatt kapasitas komputasi baru di seluruh dunia pada 2030.

Dari situ, BAN mengukur berat peralatan yang dibutuhkan pusat data. Satu server berbobot hingga 1.360 kg, switch mencapai 30 kg, dan ratusan kilogram kabel tembaga menghubungkan setiap rak. Peralatan itu tidak dirancang untuk diperbaiki dan dipakai kembali, serta harus diganti baru setiap 2-5 tahun.

Dampak ke Pengguna Smartphone dan Laptop

Laporan BAN juga memperkirakan pengembangan AI akan memaksa pengguna mengganti smartphone dan laptop lebih cepat. Alasannya, sistem baru menuntut kemampuan komputasi yang lebih tinggi dari perangkat lama.

Artinya, limbah elektronik dari pusat data bukan satu-satunya sumber. Perangkat konsumen yang dipercepat masa pakainya ikut menyumbang volume sampah yang sama.

4.871 Pusat Data Baru di Amerika Serikat

Saat ini ada 4.871 pusat data baru dalam tahap pembangunan di Amerika Serikat. Tidak semuanya ditujukan sebagai pusat data AI, tetapi sebagian akan dipakai untuk keperluan tersebut.

BAN menilai tidak ada rencana memadai untuk mengelola limbah dari gelombang pembangunan ini. Padahal, limbah elektronik sudah menjadi aliran limbah dengan pertumbuhan tercepat di planet ini.

Peringatan dari Pendiri BAN

"Limbah elektronik sudah menjadi aliran limbah yang pertumbuhannya paling cepat di planet, dan hanya seperlima yang dikelola dengan benar," kata co-founder BAN Jim Puckett, seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (17/9/2026).

Puckett menegaskan bahwa AI terasa ringan di permukaan, tetapi setiap model bergantung pada perangkat keras canggih dan khusus dalam jumlah besar. Menurutnya, tanpa perencanaan dari perusahaan dan pemerintah, pembangunan AI bisa memicu krisis limbah beracun yang jauh lebih dahsyat daripada yang sudah dialami dunia saat ini.

Mengapa Ini Relevan bagi Indonesia

Pemerintah Indonesia tengah mendorong pembangunan pusat data nasional dan menarik investasi infrastruktur AI. Regulasi pengelolaan limbah elektronik di dalam negeri masih mengacu pada aturan lama, sementara volume perangkat yang masuk dan habis masa pakainya terus naik.

Bagi pelaku bisnis digital dan investor, temuan BAN menjadi sinyal bahwa biaya lingkungan dari ekspansi AI tidak bisa diabaikan dalam perhitungan jangka panjang. Pengelolaan daur ulang perangkat keras berpotensi menjadi lini bisnis tersendiri di kawasan Asia Tenggara.

Reporter: Nofrizal Hasan
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top