SUMATERA UTARA — Kebutuhan investasi proyek ekspor listrik energi baru terbarukan (EBT) Indonesia ke Singapura mencapai US$ 10 miliar hingga US$ 20 miliar atau setara Rp 176,9 triliun sampai Rp 354 triliun. Satu proyek berkapasitas 600-700 megawatt (MW) menjadi salah satu dari tujuh mandat pengembangan yang tengah berjalan. Minat investor terhadap proyek ini disebut telah melebihi kapasitas yang tersedia.
CEO Standard Chartered Indonesia Donny Donosepoetro mengungkapkan besaran kebutuhan investasi tersebut dalam diskusi di acara Katadata SAFE 2026 di Jakarta, Rabu (16/8). Angka itu dihitung dengan kurs Rp 17.687 per dolar AS. Menurut Donny, satu proyek berkapasitas 600-700 MW merupakan salah satu dari tujuh mandat yang ada.
Standard Chartered Indonesia sendiri berperan sebagai salah satu penasihat keuangan untuk proyek yang dikembangkan Total Energies dan RGE tersebut. Keterlibatan itu membuat bank tersebut memiliki gambaran langsung soal struktur pembiayaan yang dibutuhkan.
Donny menjelaskan, besarnya kebutuhan dana tidak hanya berasal dari pembangkit energi terbarukan yang bersifat intermiten. Proyek ini juga memerlukan infrastruktur pendukung agar pasokan listrik dapat dikirim secara andal ke Singapura.
Karakter intermiten membuat pembangkit EBT tidak bisa diandalkan sepanjang waktu. Diperlukan solusi penyimpanan atau penyeimbang agar pengiriman listrik lintas negara tetap stabil. Infrastruktur inilah yang menambah bobot investasi di luar pembangkit itu sendiri.
Salah satu proyek yang disebut Donny melibatkan pengiriman listrik dari Indonesia ke Singapura melalui kabel bawah laut atau subsea cable. Skema ini menuntut investasi awal besar karena konstruksi kabel laut tidak murah dan butuh waktu panjang.
Dari sisi pembiayaan, proyek ekspor listrik tersebut telah menarik minat investor global. Donny menyebut tiket investasi minimum yang disiapkan sekitar US$ 500 juta atau Rp 8,84 triliun.
"Market testing, ticket size buat investor yang mau masuk minimum US$ 500 juta. Itu oversubscribed," ujarnya.
Kondisi oversubscribed menunjukkan proyek ekspor listrik ke Singapura dapat dikembangkan secara komersial. Donny menegaskan proyek ini tidak semata-mata bergantung pada subsidi pemerintah.
"Purely commercial, jadi tidak ada subsidi," katanya.
Donny melihat ekspor listrik ke Singapura membuka sejumlah manfaat bagi Indonesia. Selain kebutuhan investasi dalam jumlah besar, proyek ini berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan dan menghasilkan devisa dari ekspor energi.
"Buat Indonesia sebetulnya very beneficial. Satu lapangan pekerjaan, kedua devisa ekspor," ujarnya.
Perdagangan listrik lintas negara juga dinilai memberi posisi tawar bagi Indonesia. Alasannya, Indonesia akan menjadi salah satu pemasok listrik bagi Singapura.
"Yang ketiga ya Indonesia punya bargaining position yang cukup kuat politiknya juga, karena kita yang kirimkan listrik ke Singapura," katanya.
Singapura tengah mendorong peningkatan penggunaan energi hijau dan membuka peluang impor listrik rendah emisi dari negara-negara di kawasan. Sejumlah pengembang Indonesia telah memperoleh mandat untuk memasok listrik ke Singapura, dengan kapasitas proyek mulai dari sekitar 600-700 MW hingga mencapai 1 GW.
Donny berharap pengembangan proyek tersebut dapat berjalan dan membuka pasar ekspor baru bagi energi terbarukan Indonesia. Ia menambahkan, peluang ekspor listrik memiliki karakteristik berbeda dengan ekspor komoditas sumber daya alam karena sumber energinya berasal dari energi terbarukan.
"Menurut saya, one of the best thing yang Indonesia bisa lakukan adalah itu. Itu nyata sekali buat kita," ujarnya.
Antrean calon investor yang sudah terbentuk menjadi sinyal awal bahwa pasar melihat proyek ini layak secara ekonomi. Bagi pelaku usaha di sektor EBT dan infrastruktur, tujuh mandat yang berjalan membuka ruang partisipasi di rantai pasok pembangkit, kabel laut, hingga jasa rekayasa dan konstruksi.
Investasi mengandung risiko.