SUMATERA UTARA — Papua Football Academy (PFA) terus mengasah pesepak bola muda dari berbagai penjuru Papua sejak berdiri pada 2022. Di Mimika Sport Center, puluhan siswa menjalani rutinitas harian yang ketat demi mengejar mimpi menjadi pemain profesional. Program ini diinisiasi PT Freeport Indonesia sebagai warisan bagi generasi muda Bumi Cenderawasih.
Sapaan hangat datang dari para siswa Papua Football Academy yang duduk di bangku cadangan. Senyum lebar mengembang dari bibir mereka saat melintas di area latihan Mimika Sport Center, Selasa (15/9/2026). Hujan baru saja reda, menyisakan semangat yang tak surut untuk berlatih.
Di salah satu sisi lapangan, Direktur PFA Wolfgang Pikal memimpin sesi untuk kelompok usia 12-13 tahun. Sementara di sisi lain, Kepala Pelatih Ardiles Rumbiak mengasah kemampuan pemain 14-15 tahun. Mereka datang dari berbagai wilayah Papua dengan satu misi: membanggakan keluarga dan tanah kelahiran.
Hari para siswa PFA dimulai sebelum matahari terbit. Pukul 05.00 pagi, mereka sudah bangun untuk menjalani sesi latihan pertama. Latihan kedua digelar sore hari, diselingi kelas analisis taktik serta pelajaran akademik di sekolah formal.
Rutinitas ini bukan perkara mudah. Anak-anak yang jauh dari orang tua harus menjaga motivasi agar tidak kendur. Keceriaan bermain bola pun berkurang karena pelatih kerap menghentikan permainan untuk koreksi strategi.
Yansen Terianus Awi, siswa asal Jayapura, menegaskan bahwa semua bergantung pada kemauan masing-masing. "Kalau kita tidak ada kemauan, tempatnya bukan di sini. Kalau saya ingin buat nama keluarga harum, maka tempatnya di sini," ujarnya.
PFA tidak hanya menempa kemampuan teknis sepak bola. Pembentukan karakter menjadi bagian penting dari pendidikan para siswa. Salah satu kebiasaan yang ditanamkan adalah membersihkan sisa makanan dari piring setelah makan.
Kebiasaan itu terbawa hingga ke luar lingkungan akademi. Komite PFA Children Safeguarding, Nugroho Setiawan, menceritakan pengalamannya saat perjalanan ke Jawa. "Waktu perjalanan Jawa saat makan di restoran, mereka bersikeras membersihkan sisa makanan meski pegawai sudah meminta agar piring dibiarkan saja di meja," ceritanya.
Disiplin kecil seperti ini dinilai penting untuk membentuk perilaku baik yang akan berguna di kehidupan sehari-hari, tidak hanya di lapangan hijau.
Selain latihan fisik dan taktik, para siswa PFA tetap mendapatkan pendidikan formal. Setiap hari kerja pukul 15.00, mereka mengikuti pelajaran akademik. Tujuannya agar tidak tertinggal dari teman-teman sebaya di luar akademi.
Keseimbangan antara sepak bola dan pendidikan menjadi fondasi utama PFA. Dengan begitu, para lulusan nantinya memiliki bekal lengkap, baik sebagai atlet profesional maupun individu yang siap menghadapi kehidupan di luar lapangan.
Sejak 2022, PFA berkomitmen mencetak talenta-talenta berbakat dari Bumi Cenderawasih. Program ini menjadi salah satu warisan nyata bagi masa depan sepak bola Indonesia, khususnya dari wilayah paling timur.