SUMATERA UTARA — Kami sempat melihat langsung iX3 Neue Klasse di booth BMW pada hari pertama GIIAS 2026. Perlu dicatat, unit yang dipajang masih dalam status display statis—tidak ada sesi test drive, dan pihak BMW Indonesia belum membuka keran pemesanan resmi. Jadi apa yang bisa kami ulas kali ini baru sebatas kesan awal dari desain, material kabin, dan tentu saja, klaim teknis yang mereka bawa.
Secara fisik, iX3 ini benar-benar mengusung bahasa desain baru yang belum pernah dipakai BMW sebelumnya. Proporsinya lebih kotak dan tegas dibanding iX3 generasi pertama yang masih mirip X3 konvensional. Garis atapnya cenderung datar, dan lampu depan menyipit dengan daytime running light yang menyambung ke gril kidney khas BMW—hanya saja gril ini sekarang tertutup rapat dan menyala seperti panel LED.
Bodi pakai banyak permukaan datar yang sengaja dibuat untuk aerodinamika. Peleknya berukuran besar dan didesain khusus mengurangi hambatan angin. Di atas kertas, ini yang mendukung klaim efisiensi mereka. Tapi untuk konteks jalanan Indonesia, kamu perlu waspada dengan ban profil tipis—potensi benjol kalau kena lubang masih jadi pertanyaan besar yang belum bisa kami jawab sekarang.
Masuk ke dalam, kabinnya tampil sangat minimalis. BMW menghilangkan hampir semua tombol fisik. Semua kontrol—dari AC sampai pengaturan berkendara—dipindah ke layar sentuh tengah berukuran 17,9 inci yang melengkung ke arah pengemudi. Di depan pengemudi tidak ada lagi cluster instrumen digital; informasi kecepatan dan navigasi kini memakai head-up display yang diproyeksikan ke kaca depan.
Material di kabin terasa premium, sesuai ekspektasi BMW. Ada banyak permukaan soft-touch dan anyaman kain daur ulang yang jadi tren pabrikan Eropa. Namun, satu hal yang langsung kami rasakan: menghilangkan tombol fisik mungkin terlihat canggih, tapi untuk operasional harian—misalnya mengatur volume atau suhu sambil jalan—butuh adaptasi serius. Ini catatan yang perlu kamu pertimbangkan sebelum membeli.
Klaim utama BMW untuk iX3 Neue Klasse adalah jarak tempuh hingga 805 kilometer sekali cas. Angka ini didapat dari siklus uji WLTP yang memang terkenal lebih optimistis dibanding kondisi nyata. Untuk pemakaian di Indonesia—dengan suhu panas, kemacetan, dan kecepatan tol yang tinggi—angka realistisnya kemungkinan besar turun ke kisaran 600-650 km. Masih sangat impresif, tapi jangan berharap dapat 805 km di rute Jakarta-Surabaya tanpa cas.
Teknologi baterai generasi baru ini memakai sel silinder (cylindrical) 46 mm dengan kimia NMC. BMW juga memperkenalkan arsitektur 800-volt, yang berarti waktu charging jauh lebih singkat. Sayangnya, BMW Indonesia belum merilis data resmi soal kapasitas baterai dalam kWh dan kecepatan charging maksimumnya. Kami juga belum bisa memverifikasi performa mesinnya—tenaga, torsi, dan akselerasi 0-100 km/jam masih menjadi misteri sampai ada konfirmasi lebih lanjut.
BMW Indonesia belum mengumumkan harga resmi iX3 Neue Klasse. Sebagai gambaran, iX3 generasi sebelumnya dibanderol di atas Rp 1,4 miliar. Dengan teknologi baru dan klaim jarak tempuh yang jauh lebih jauh, harga iX3 Neue Klasse dipastikan lebih tinggi—estimasi kami bisa menembus Rp 1,7 miliar hingga Rp 2 miliar untuk varian tertinggi.
Di angka segitu, kompetitor langsungnya bukan lagi sekadar mobil listrik mainstream. Dia akan berhadapan dengan Mercedes-Benz EQE SUV dan Porsche Macan Electric. Perang di segmen ini ketat, dan iX3 harus membuktikan bahwa jarak tempuhnya yang besar itu sepadan dengan banderol premium yang diminta.
Sebagai kesan awal, iX3 Neue Klasse adalah produk yang sangat menjanjikan. Tapi ada beberapa hal yang bikin kami menahan rekomendasi:
Kami akan segera mengupdate artikel ini begitu BMW Indonesia memberikan data teknis lengkap dan kesempatan test drive. Untuk sekarang, iX3 Neue Klasse adalah mobil yang menarik untuk dikagumi, tapi keputusan membelinya masih butuh banyak informasi tambahan.