SUMATERA UTARA — Kericuhan pecah setelah forum diskusi bertema Pancasila yang digelar di kampus UGM berakhir. Mahasiswa yang hadir menilai ketiga pejabat tidak layak menjadi narasumber, sehingga memicu aksi pengepungan. Situasi baru mereda setelah aparat kepolisian menerjunkan mobil patroli untuk mengevakuasi para menteri dan wakil menteri keluar dari area kampus.
Dalam proses evakuasi, massa mahasiswa yang sudah memblokade jalan keluar bertindak agresif. Sejumlah mahasiswa terlihat memukul dan menggebrak bodi mobil patwal yang membawa rombongan pejabat. Tidak ada korban luka dalam insiden tersebut, namun ketegangan sempat meningkat saat kendaraan dipaksa merangsek melewati kerumunan.
Penolakan terhadap kehadiran Nusron Wahid, Budiman Sudjatmiko, dan Sudaryono bukan tanpa alasan. Menurut informasi yang dihimpun di lokasi, mahasiswa mempertanyakan rekam jejak dan kapasitas ketiganya dalam membahas ideologi Pancasila. Budiman Sudjatmiko, yang kini menjabat Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), sebelumnya dikenal sebagai aktivis era reformasi, sementara Nusron Wahid dan Sudaryono merupakan kader partai politik yang dinilai mahasiswa tidak merepresentasikan nilai-nilai Pancasila secara murni.
Aksi protes berlangsung sejak sesi tanya jawab dimulai. Mahasiswa secara bergantian menyampaikan kritik pedas dan mempertanyakan legitimasi para pejabat berbicara di forum akademik. Suasana terus memanas hingga akhirnya panitia memutuskan diskusi dihentikan lebih awal. Keputusan itu justru memicu kemarahan massa yang kemudian bergerak mengepung pintu keluar ruangan.
Polisi yang berjaga di lokasi langsung berkoordinasi dengan pihak rektorat untuk menyiapkan jalur evakuasi darurat. Mobil patwal dikerahkan setelah negosiasi dengan perwakilan mahasiswa tidak membuahkan hasil. Hingga berita ini diturunkan, tidak ada pernyataan resmi dari Kementerian ATR/BPN maupun UGM terkait insiden tersebut.
Peristiwa di UGM ini menjadi catatan baru dalam dinamika hubungan antara kampus dan kekuasaan di era pemerintahan Presiden Prabowo. Aksi pengepungan terhadap pejabat negara di lingkungan universitas menunjukkan resistensi mahasiswa yang masih tinggi terhadap figur-figur politik tertentu. Para pengamat menilai insiden ini bisa menjadi sinyal bagi pemerintah untuk lebih selektif dalam memilih juru bicara di forum publik, khususnya di lingkungan akademik yang kritis.