MEDAN — Digitalisasi tarombo tidak hanya sekadar pendataan garis keturunan. Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, melihat potensi lebih besar dari sistem ini saat membuka Rakernas Parsibo di Grand Mercure, Sabtu (13/6/2026). Menurutnya, teknologi harus menjadi alat untuk memperkuat nilai-nilai kebudayaan, bukan justru ditinggalkan.
Rico Waas menyebut, melalui sistem digital, anggota keluarga besar Parsibo dapat dengan mudah melacak garis keturunan dan menemukan posisi kekerabatan. Data anggota yang tersebar di berbagai daerah pun bisa diketahui secara real-time.
"Di tengah kompleksitas kehidupan modern, mencari dan menjaga hubungan kekeluargaan bukan hal mudah," ujarnya dalam sambutan. Kehadiran sistem digital, lanjut dia, menjadi solusi untuk memperkuat konektivitas sekaligus mempermudah kolaborasi di bidang pendidikan, karier, dan ekonomi.
Ia mendorong agar digitalisasi tarombo tidak berhenti pada tahap pendataan. Rico Waas ingin sistem ini dikembangkan menjadi basis jejaring sosial dan ekonomi keluarga.
"Dengan data yang terintegrasi, peluang untuk saling membantu antaranggota keluarga akan semakin terbuka dan terstruktur," kata Rico. Ia meminta pembahasan teknis diperdalam, mulai dari pencatatan keanggotaan, lokasi domisili, hingga potensi masing-masing anggota.
Di luar fungsi administratif, Rico Waas mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi juga memiliki fungsi protektif. Dengan pendekatan digital yang tepat, kebudayaan dapat dikemas lebih menarik sehingga mampu menjadi benteng dari pengaruh negatif.
Ia menekankan, digitalisasi juga menjembatani hubungan antara generasi tua dan muda. Kekuatan budaya yang didukung teknologi, termasuk melalui digitalisasi tarombo, dapat menjadi fondasi penting dalam menjaga identitas sekaligus mendorong kemajuan bersama.
Rakernas Parsibo diharapkan mampu melahirkan rumusan program yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa meninggalkan akar budaya.