SUMATERA UTARA — TVS Motor Company menegaskan segmen motor sport di Indonesia tidak akan redup meski skuter matic menguasai lebih dari 90 persen pasar. Keyakinan itu disampaikan di tengah gelombang merek pendatang baru seperti QJ Motor, Keeway, dan Benelli yang agresif menawarkan motor sport, cruiser, hingga adventure dengan harga kompetitif. Namun data AISI justru menunjukkan motor sport baru menguasai 2,89 persen pangsa pasar — angka yang membuat klaim optimistis ini perlu diuji.
Vishal Mehta, Division Head Asean TVS Motor Company, menyampaikan pandangan tersebut saat ditemui di Jakarta pada Kamis (29/10/2026). Menurutnya, karakter konsumen Indonesia memang condong ke kepraktisan skuter matic untuk aktivitas harian, tetapi tren itu tidak menutup ruang bagi segmen sport untuk tumbuh.
Dasar argumennya bukan survei penjualan, melainkan pembacaan terhadap pergeseran gaya hidup. TVS melihat pertumbuhan ekonomi mendorong sebagian konsumen mencari motor bukan lagi sekadar alat transportasi, tapi juga sarana hobi dan ekspresi diri.
Skuter Matic Masih Dominan, Sport Hanya 2,89 Persen
Angka AISI memberi gambaran berbeda dari nada optimistis TVS. Pada data terakhir yang dipaparkan untuk bulan pertama 2025, porsi skuter matic berada di atas 90 persen. Motor underbone atau bebek hanya sekitar 3,37 persen, sementara motor sport 2,89 persen.
Artinya, ruang tumbuh segmen sport memang ada, tapi basisnya sangat kecil. Kenaikan satu persen saja di segmen ini butuh perjuangan panjang karena harus bersaing dengan matic yang sudah menjadi default pilihan konsumen Indonesia.
Perlu dicatat, AISI tidak memaparkan segmentasi lengkap bebek, matic, dan sport dalam data terbaru tersebut. Angka 2,89 persen itu menjadi rujukan terakhir yang tersedia untuk mengukur besaran ceruk pasar sport saat ini.
Merek Pendatang Baru Jadi Bahan Bakar Pertumbuhan
TVS justru menempatkan kehadiran pemain baru sebagai faktor pendorong, bukan ancaman. QJ Motor, Keeway, dan Benelli disebut makin gencar memperluas portofolio ke motor sport fairing, naked bike, hingga cruiser dengan fitur dan harga yang bersaing.
Semakin banyak merek masuk, menurut Vishal, semakin besar peluang konsumen mencoba kategori yang berbeda dari kebiasaan mereka. "Ke depannya, karena semakin banyak merek yang berdatangan. Anda bisa melihat di industri kendaraan roda dua semakin banyak merek yang masuk, kan?" ujarnya.
Logikanya berlapis: pengguna matic yang ingin naik kelas bisa berpindah ke sport tanpa harus keluar dari anggaran yang terlalu jauh, karena pilihan harga kini lebih bervariasi. Di sinilah TVS berharap efek kumulatif dari banyaknya pemain baru bekerja.
Konsumen Matic Berpotensi Naik Kelas
Vishal menyebut ada dua faktor utama yang akan menopang segmen sport ke depan. Pertama, pergeseran fungsi motor dari alat transportasi menjadi sarana hobi dan gaya hidup seiring pertumbuhan ekonomi. Kedua, migrasi konsumen matic ke motor sport sebagai bentuk peningkatan kelas kendaraan.
"Namun kami percaya seiring dengan pertumbuhan Indonesia sebagai sebuah negara, akan semakin banyak pelanggan yang ingin mencoba hal-hal baru dan berbeda, bukan? Jadi, kategori sport akan terus berkembang. Kategori ini tidak akan redup," tegas Vishal.
Ia menambahkan, dengan lebih banyak pemain dan pelanggan yang menaikkan kelas kendaraan, kategori sport akan terus berkembang. "Kami percaya dengan hal tersebut, masyarakat akan memiliki lebih banyak pilihan, dan kategori motor sport justru akan meningkat," pungkasnya.
Yang Perlu Diperhatikan dari Klaim Ini
- Klaim TVS berbasis proyeksi tren gaya hidup, bukan data penjualan sport yang menunjukkan kenaikan signifikan — AISI sendiri tidak merinci tren antarwaktu segmen ini.
- Pangsa 2,89 persen membuat segmen sport sangat sensitif terhadap fluktuasi; kenaikan volume absolut bisa terlihat besar secara persentase tapi kecil secara unit.
- TVS tidak menyebut target penjualan spesifik maupun model sport apa yang akan didorong di Indonesia dalam pernyataan ini.
- Dominasi matic di atas 90 persen adalah struktur pasar yang mapan, dan pergeseran preferensi konsumen biasanya berlangsung lambat, bukan dalam satu-dua tahun.
Verdict: Optimisme yang Masuk Akal, Tapi Butuh Bukti Angka
Pernyataan TVS masuk akal secara logika industri: pasar yang didominasi satu segmen selalu menyisakan ceruk bagi segmen lain yang ingin tumbuh, apalagi ketika pemain baru terus menekan harga dan memperbanyak pilihan model. Kehadiran QJ Motor, Keeway, dan Benelli memang nyata dan memberi konsumen alternatif yang belum tentu ada lima tahun lalu.
Tapi pembaca yang mempertimbangkan membeli motor sport sebaiknya tidak membaca pernyataan ini sebagai jaminan pasar yang sedang panas. Dengan pangsa 2,89 persen, segmen sport masih kecil, dan pertumbuhannya bergantung pada seberapa serius merek-merek tersebut membangun jaringan purna jual dan layanan di Indonesia — faktor yang tidak disinggung dalam pernyataan TVS.
Untuk konsumen yang mencari motor harian praktis, matic tetap pilihan rasional. Bagi yang ingin motor sebagai hobi dan ekspresi diri, pilihan sport memang kian beragam, dan itu kabar baik. Klaim "tidak akan redup" baru bisa dinilai setelah beberapa tahun data AISI menunjukkan pergerakan pangsa yang konsisten.