HUMBANG HASUNDUTAN — PT Inalum, anggota MIND ID, membentuk Masyarakat Peduli Api di kawasan tangkapan air (DTA) Danau Toba sebagai garda terdepan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Program ini menghubungkan warga sekitar dengan BPBD, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), dan Manggala Agni untuk deteksi dini hingga pemadaman awal.
Inisiatif tersebut lahir karena lahan konservasi di DTA Danau Toba berulang kali terbakar. Pemerintah daerah dinilai memiliki keterbatasan dana untuk penguatan kelembagaan, sehingga Inalum mengambil peran bersama instansi terkait.
Dari 4 Desa pada 2024 Menjadi 23 Kelompok di 23 Desa
Koordinator MPA Alvi Syahrin menyebut pembentukan kelompok ini dimulai pada 2024 dari empat desa perintis. Keempatnya adalah Desa Sibolangit, Desa Tonggin, dan Desa Kodon-kodon di Kabupaten Karo, serta Desa Paropo I di Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi.
"Teman-teman Inalum ada lahan konservasi DTA Danau Toba. Sudah ada beberapa kali lahan konservasinya terbakar. Jadi kami inisiasi untuk penguatan untuk masyarakat dan kelembagaan dan dinas terkait," kata Alvi kepada IDN Times, Kamis (17/9/2026).
Kini jumlahnya berkembang menjadi 23 kelompok di 23 desa, dengan target bertambah menjadi 28 kelompok pada 2026. Setiap peserta menerima pelatihan pendeteksian titik panas melalui aplikasi, simulasi pemadaman, serta peralatan lapangan.
Jet Shooter hingga Sepatu Identifikasi MPA
Peralatan yang dibagikan mencakup pompa punggung (jet shooter), alat pemukul api (gepyak), garukan besi pemisah bara, hingga sepatu dan baju identifikasi MPA. Pelatihan menekankan teknik dasar seperti tidak mendatangi arah angin saat memadamkan api.
"Pelatihannya pertama pendeteksi titik api atau panas. Ada aplikasinya. Pelatihan-pelatihan simulasi pemadaman memakai peralatan yang kami berikan," ucap Alvi.
MPA berfungsi sebagai penanggulangan dini sekaligus sumber informasi pertama saat terjadi kebakaran. Jika api membesar, bantuan dikerahkan dari BPBD, KPH, dan petugas gabungan TNI/Polri.
Pengalaman Januar: Sesak Napas dan Trauma Asap
Januar Sinaga (36), warga Desa Hutajulu, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, bergabung dengan MPA pada pertengahan 2025. Ia mengikuti sosialisasi dan pelatihan di desanya yang melibatkan Inalum, Damkarhutla, dan KPH.
Dari MPA kecamatannya, Januar biasanya bergerak bersama 30 sampai 40 orang. Ia sudah tiga kali ikut aksi pemadaman, terakhir pada Agustus 2026 di Desa Hutajulu.
"Tentunya pengalaman tak terlupakan. Rasanya sesak napas karena asapnya. Mau diulang gak mungkin, kayak trauma. Tapi namanya kami berusaha. Kalau sudah itu ingat keluarga di rumah jadinya," ucapnya.
Pemadaman saat itu meluas karena angin kencang, sehingga MPA memanggil bantuan Damkarhutla. Januar menyebut kebakaran umumnya dipicu ulah manusia, mulai dari buka lahan dengan cara dibakar, pembakaran sampah untuk kompos, hingga puntung rokok di lahan ilalang yang mudah terbakar.
Usulan Struktur Resmi agar Tanggung Jawab Lebih Jelas
Januar menilai MPA bermanfaat, tetapi menyarankan pembentukan struktur resmi. Menurutnya, kejelasan struktur membuat warga merasa bertanggung jawab meski lahan yang terbakar bukan miliknya.
"Saya juga sarankan agar MPA ada strukturnya. Jadi ada tanggung jawabnya walaupun yang terbakar bukan lahannya," ujarnya.
Sejak 2023, Januar terlibat penanaman bibit konservasi di kawasan tersebut. Tanaman dominan di daerahnya adalah pinus, disusul alpukat.
1.370 Hektare dan 585 Ribu Pohon dalam Tiga Tahun
Program konservasi Inalum di DTA Danau Toba selama tiga tahun mencakup 1.370 hektare lahan dan 585 ribu pohon. Kegiatan ini menghubungkan rehabilitasi lahan, perlindungan biodiversitas, dan pemberdayaan masyarakat sekitar.
Aliran air dari Danau Toba ke Sungai Asahan menjadi sumber energi bagi produksi aluminium Inalum. Karena itu, vegetasi di kawasan tangkapan air perlu dijaga dari ancaman karhutla agar pasokan energi tetap berjalan.