SUMATERA UTARA — Sutradara Edmund Yeo membawa novel Li Zi Shu berjudul The Age of Goodbyes ke layar lebar dan menayanginya di seksi Special Presentations Toronto Film Festival. Film ini dibintangi Vivian Sung sebagai Du Li An, perempuan yang kisah cintanya hancur akibat kerusuhan rasial 13 Mei 1969 di Kuala Lumpur. Adaptasi ini menandai fitur fiksi kelima Yeo setelah River of Exploding Durians dan Moonlight Shadow.
Edmund Yeo mengakui novel Li Zi Shu sebagai salah satu karya paling sulit diadaptasi ke film. Struktur waktunya bertumpuk, naratornya tidak bisa dipercaya, dan batas antara memori dan mitos sengaja dibiarkan kabur.
Novel itu bahkan baru dimulai di halaman 513, angka yang merujuk pada 13 Mei 1969. Tanggal tersebut menandai pecahnya kerusuhan rasial di Kuala Lumpur setelah pemilu yang sengit, meninggalkan ratusan orang tewas dan memicu keadaan darurat.
Sinopsis The Age of Goodbyes
Film ini berpusat pada Kai, seorang bocah yang menemukan novel berjudul The Age of Goodbyes dan terhanyut ke dalam dunia Du Li An. Kisah Du Li An bermula di Ipoh tahun 1969, ketika romansanya dengan Lin Sang berakhir setelah pria itu menghilang usai mengungkapkan kutukan kematian dini yang membayangi keluarganya.
Bertahun-tahun kemudian, seorang pria bernama Mong Sang datang membawa wajah Lin Sang yang persis sama, tapi bersikeras bahwa dirinya orang yang berbeda. Troy Liu berperan sebagai Kai, sementara Stanley Yau memerankan dua karakter sekaligus, Lin Sang dan Mong Sang.
Film ini merupakan co-production Taiwan dan Malaysia yang syutingnya menggunakan lima bahasa: Mandarin, Kanton, Melayu, Thailand, dan Inggris.
Perubahan dari Novel ke Film
Yeo melakukan satu perubahan besar dari sumber aslinya. Dalam novel, Lin Sang menghilang pada hari Du Li An menikah dengan pria lain bernama Steely Bo. Di film, Yeo mengaitkan langsung hilangnya Lin Sang dengan kekerasan rasial 13 Mei.
"Saya tidak tertarik mengambil novel yang sangat labirin ini lalu membuat semuanya rapi dan kronologis untuk penonton," kata Yeo kepada Variety. "Saya ingin menemukan padanan sinematik untuk pengalaman membacanya."
Bahkan sang novelis sempat ragu. "Ketika saya pertama kali bertemu Li Zi Shu untuk membahas proyek ini, pertanyaan pertamanya adalah, 'Kamu yakin ini bisa diadaptasi?'" kenang Yeo.
Pendekatan Yeo berakar pada sejarah keluarganya sendiri. Ia menemukan novel Li Zi Shu tak lama setelah berkunjung ke China, mengunjungi kuil leluhur keluarganya di Chaoshan dan mempelajari detail baru soal migrasi kakeknya ke Asia Tenggara.
"Mereka orang biasa yang hidup di dalam sejarah, dan konsekuensinya terasa lewat rasa takut, kehilangan, perpisahan, rumor, memori, dan hal-hal yang tidak diucapkan," ujarnya.
Vivian Sung dan Tantangan Peran Du Li An
Bagi Vivian Sung, tantangan terbesarnya adalah menemukan kesinambungan karakter yang menua dari perempuan muda yang jatuh cinta menjadi istri, ibu, dan ibu tiri di tengah garis waktu yang bergeser.
"Saat pertama kali berbicara dengan sutradara soal naskah, dia bilang Du Li An adalah seorang 'penyintas.' Kata itu melekat dan menjadi kunci untuk memahami dirinya," kata Sung.
Beradu akting dengan Yau sebagai Lin Sang yang hilang sekaligus kembarannya, Mong Sang, membuat Sung harus berada di dalam ketidakpastian. Ia mengenang adegan pertama Du Li An melihat Mong Sang.
"Pikiran saya berkata sangat jelas, 'Ini bukan dia.' Tapi tubuh dan memori saya mempercayai hal lain," ujarnya.
Kebingungan itu tertulis dalam dialog. Du Li An berbicara Kanton di rumah, Mandarin dengan Lin Sang, dan Kanton dengan Mong Sang.
"Kadang, saat dia berbicara Mandarin dengan Mong Sang, itu justru mengungkap bahwa orang yang sebenarnya ingin dia ajak bicara adalah Lin Sang," kata Sung.
Sung yang berasal dari Taiwan menghabiskan lima sampai enam bulan mempersiapkan peran ini. Ia bekerja dengan dua pelatih bahasa untuk aksen Kanton dan Hokkien Malaysia era 1960-an, serta tinggal sebulan di Kuala Lumpur sebelum syuting.
Musik dari Orang Tua Sang Sutradara
Warisan keluarga juga mengalir lewat soundtrack. Beberapa lagu dalam film ditulis dan dibawakan oleh orang tua Yeo sendiri pada dekade 1970-an, jauh sebelum putra mereka berpikir membuat film tentang Ipoh fiktif tempat lagu-lagu itu mungkin diputar di radio.
"Seluruh film ini tentang hal-hal yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain: cerita, memori, trauma, mitos, bahkan gestur," kata Yeo.
Baginya, suara nyata ibunya yang menyanyikan lagu ciptaan ayahnya, direkam saat mereka masih muda, tiba-tiba tersalurkan lewat film yang ia buat puluhan tahun kemudian.
The Age of Goodbyes menjadi fitur fiksi kelima Yeo, menyusul River of Exploding Durians, We the Dead, Malu, dan Moonlight Shadow. Penayangannya di Toronto Film Festival menempatkan sinema Malaysia-Taiwan di panggung festival internasional, membawa cerita orang biasa yang hidup di dalam sejarah ke penonton global.