Mercedes-Benz Kembangkan Power Converter, Baterai EV Bisa Matikan Sel Rusak Sendiri

Penulis: Syahrul Karim  •  Rabu, 04 November 2026 | 17:32:01 WIB
Mercedes-Benz mengembangkan Power Converter untuk mengatur pengisian daya per sel baterai EV.

SUMATERA UTARA — Mercedes-Benz tengah mengembangkan Power Converter yang mampu mengatur pengisian dan pengosongan daya per sel baterai, bukan sebagai satu kesatuan paket. Teknologi ini diklaim bisa memperpanjang usia baterai dan memungkinkan pencampuran kimia sel berbeda dalam satu paket. Sistem masih tahap pengembangan dan belum dijadwalkan masuk produksi.

Pabrikan asal Stuttgart itu memaparkan konsep Power Converter sebagai upaya mengubah cara kerja baterai tegangan tinggi mobil listrik. Selama puluhan tahun, paket baterai traksi terdiri dari ribuan sel yang dikelompokkan ke dalam modul, dan otak mobil hanya bisa memantau tegangan tiap sel tanpa bisa mengatur perlakuan pengisian secara individual.

Ketika motor listrik membutuhkan 100 kilowatt, seluruh paket mengalirkan 100 kW. Saat pengisian cepat 150 kW, semua sel diperlakukan sama rata. Pendekatan konvensional inilah yang ingin dipatahkan Mercedes-Benz lewat konverter mikro yang dapat diprogram.

Setiap Sel Punya Konverter Mikro yang Bisa Dimatikan

Dengan teknologi baru, tiap sel di dalam paket tidak hanya dipantau tetapi juga dikendalikan oleh konverter mikro. Jika satu sel tidak lagi mampu mempertahankan tegangan yang dibutuhkan, konverter mikro bisa mematikannya begitu saja.

Kapasitas baterai memang berkurang sedikit, tetapi mobil tetap berjalan seperti biasa. Pendekatan ini menghindari skenario paling mahal bagi pemilik EV di luar masa garansi, yakni penggantian satu paket baterai penuh gara-gara satu sel bermasalah.

Mercedes-Benz menjelaskan bahwa penggunaan beberapa konverter secara paralel memungkinkan sistem mengatur aliran energi per sel atau per kelompok sel. Kebutuhan akan satu konverter besar pun hilang.

Kimia Sel Berbeda Boleh Dicampur dalam Satu Paket

Konverter mikro memastikan sel dengan kimia atau usia berbeda tetap mendapat pengisian yang tepat, meski pada level daya yang tidak sama. Output tegangan tinggi juga tidak lagi terikat pada jumlah sel yang dirangkai seri, melainkan pada konverter dan kendali berbasis perangkat lunaknya.

Fleksibilitas ini membuka pendekatan baterai yang lebih modular. Jika pemilik hanya berkendara sekitar 50 mil sehari, otak mobil dapat menaruh sebagian paket dalam mode standby dan menjaga sel pada level optimal untuk preservasi.

Saat perjalanan jarak jauh direncanakan, komputer membuka kembali kapasitas penuh. Pengisian dua arah atau bidirectional charging juga sudah tertanam dalam Power Converter, sehingga konversi AC dan DC ditangani langsung oleh konverter mikro.

Risiko Ribuan Komponen yang Bisa Gagal

Mercedes-Benz menyebut teknologi ini berpotensi menambah jarak tempuh dan efisiensi model plug-in di masa depan. Namun ada catatan besar yang tidak disinggung dalam paparan resmi mereka.

Dengan ribuan konverter mikro tersegel di dalam paket baterai, otomatis ada ribuan komponen yang berpotensi rusak. Jika eksekusinya tepat, pendekatan ini bisa membawa tingkat modularitas dan penyetelan presisi baru pada baterai mobil listrik.

Statusnya masih tahap pengembangan. Mercedes-Benz belum mengumumkan kapan Power Converter akan masuk lini produksi maupun model mana yang pertama memakainya.

Reporter: Syahrul Karim
Sumber: insideevs.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top