DAIRI — Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Distan Dairi, Wandi Tumanggor, menyebut pengurangan alokasi NPK Phonska untuk Sumatera Utara mencapai sekitar 34 ribu ton. Dari jumlah itu, Kabupaten Dairi menanggung pemangkasan 5.110 ton.
Angka tersebut merujuk hasil realokasi keempat tahun 2026. Alokasi NPK Phonska Dairi turun dari 27.836 ton menjadi 22.726 ton.
“Pengurangan alokasi ini berpotensi menimbulkan konflik di lapangan karena kebutuhan petani terhadap pupuk NPK Phonska masih sangat tinggi,” ujar Wandi kepada wartawan, Selasa (3/11/2026).
Di sisi lain, pemerintah menambah alokasi pupuk urea sebanyak 250 ton. Alokasi urea naik dari 20.507 ton menjadi 20.757 ton.
Alokasi pupuk NPK formula tercatat 1.355 ton, sedangkan pupuk organik sebanyak 1.941 ton. Penambahan urea tidak menutup kekurangan NPK Phonska yang menjadi andalan petani Dairi.
Wandi menjelaskan, pupuk NPK Phonska dibutuhkan untuk mendukung produktivitas komoditas unggulan Dairi. Jagung, padi, kopi, dan kakao termasuk yang paling bergantung pada jenis pupuk tersebut.
Pada November ini, petani yang masuk masa tanam September-Oktober mulai membutuhkan pupuk untuk pemupukan tahap kedua. Ketersediaan NPK Phonska jadi semakin penting.
“Untuk masa tanam September-Oktober, November ini sudah masuk pemupukan kedua. Jadi, pupuk tersebut sangat dibutuhkan petani,” jelas Wandi.
Distan Dairi berharap pemerintah melakukan realokasi pupuk bersubsidi pada November ini. Kebutuhan petani dinilai masih cukup tinggi, sementara pasokan NPK Phonska belum pulih.
Tanpa tambahan alokasi, kegiatan pemupukan tahap kedua berisiko terganggu. Dampaknya bisa merembet ke produksi jagung, padi, kopi, dan kakao di Dairi pada musim tanam ini.