SUMATERA UTARA — Mazda CX-80 hadir sebagai SUV plug-in hybrid yang mempertahankan karakter berkendara mesin bensin di tengah dominasi PHEV serba senyap. Mengusung mesin 2.500 cc e-SKYACTIV PHEV bertenaga 191 PS dan torsi 261 Nm, mobil ini menawarkan pengalaman mengemudi yang jarang ditemui di segmen elektrifikasi. Dengan harga Rp 1.199.900.000, CX-80 menyasar pengguna yang mengutamakan sensasi di balik kemudi ketimbang sekadar angka efisiensi.
Mazda CX-80 masuk ke pasar SUV premium dengan pendekatan yang berbeda dari kebanyakan plug-in hybrid. Alih-alih mengejar keheningan dan efisiensi maksimal, Mazda justru mempertahankan sensasi berkendara yang perlahan hilang dari mobil modern. Karakter ini terasa sejak pertama kali mobil dibawa melaju.
CX-80 menggunakan mesin 2.500 cc empat silinder e-SKYACTIV PHEV yang menghasilkan tenaga 191 PS dan torsi 261 Nm. Yang membedakan dari kompetitor, Mazda tidak memasangkan mesin tersebut dengan e-CVT atau transmisi single-speed.
CX-80 memakai transmisi otomatis delapan percepatan. Hasilnya, setiap kali pedal gas diinjak, masih terasa perpindahan gigi, suara mesin saat putaran naik, hingga sedikit hentakan yang membuat pengalaman berkendara terasa lebih hidup.
Bagi sebagian orang, karakter ini mungkin terasa kuno. Namun bagi penggemar sensasi mengemudi, pendekatan Mazda justru menjadi daya tarik tersendiri.
Meski mempertahankan rasa mesin bensin, CX-80 tetap menawarkan keunggulan utama sebuah PHEV. Baterainya memungkinkan mobil melaju dengan tenaga listrik hingga sekitar 60 km dalam kondisi penuh.
Jarak tersebut cukup untuk mobilitas harian sebagian pengguna. Mobil bisa dipakai bekerja pada pagi hari, lalu diisi ulang menggunakan wall charger saat sampai rumah. Dengan pola ini, mesin bensin tidak harus selalu bekerja dan konsumsi BBM jauh lebih hemat.
Untuk perjalanan jauh, mesin bensin mulai mengambil peran. Tangki bahan bakar berkapasitas 70 liter membuat pengguna tidak perlu terlalu bergantung pada stasiun pengisian daya saat bepergian ke luar kota.
Ada satu catatan pada sisi pengisian daya. Mazda CX-80 belum mendukung DC charging, sehingga pengisian baterai ketika perjalanan jauh membutuhkan waktu lebih lama. Keterbatasan ini menjadi kekurangan yang perlu dipertimbangkan calon pembeli yang sering menempuh rute antarkota.
Dengan panjang 4.990 mm dan wheelbase 3.120 mm, CX-80 jelas bukan SUV kecil. Namun dimensi tersebut tidak membuatnya merepotkan untuk penggunaan sehari-hari.
Setir menjadi salah satu bagian yang paling menyenangkan. Responsnya nurut, komunikatif, dan memiliki bobot yang pas. Untuk putar balik maupun bermanuver di perkotaan, CX-80 masih terasa mudah dikendalikan.
Suspensinya tidak bisa disebut paling empuk di kelasnya. Ada karakter firm yang membuat body roll minim dan mobil terasa mantap ketika diajak melaju cepat. Hentakan transmisi pada kondisi tertentu terkadang terasa cukup kasar.
Pendekatan Mazda juga terasa pada interior. CX-80 tidak mencoba terlihat mewah dengan ornamen berlebihan. Material, bentuk, dan detail kabinnya dibuat sederhana tetapi berkelas.
Fitur yang tersedia cukup lengkap, mulai dari panoramic sunroof, audio Bose, ventilated seat, kamera 360 derajat, hingga ADAS. Mazda juga masih mempertahankan banyak tombol fisik. Fitur ADAS bisa dimatikan dan pengaturannya tetap tersimpan.
Sebagai SUV tiga baris, CX-80 menawarkan akomodasi yang fleksibel. Konfigurasi captain seat di baris kedua menjadi tempat paling nyaman, sementara baris ketiga masih cukup memadai untuk perjalanan tertentu.
Dengan harga Rp 1.199.900.000, Mazda CX-80 bukan PHEV yang dibuat untuk semua orang. Mobil ini tidak mencoba menjadi PHEV paling murah atau paling senyap.
Mazda justru mempertahankan sesuatu yang menurut mereka masih penting, yakni rasa ketika berada di balik kemudi. Bagi pengguna yang menilai pengalaman mengemudi lebih dari sekadar angka efisiensi, CX-80 menawarkan nilai yang sulit dihitung secara kuantitatif.