SUMATERA UTARA — Jika ada satu tim yang paham betul pahitnya tersingkir karena selisih gol, itu adalah Skotlandia. Kini, di tangan para analis data dan superkomputer, peluang mereka justru dinilai besar untuk lolos meski belum sekalipun menunjukkan tajinya di Piala Dunia 2026.
Statistik serangan Skotlandia di turnamen ini sangat buruk. Striker utama Che Adams hanya menyentuh bola tiga kali di kotak penalti lawan selama 146 menit bermain. Satu-satunya gol yang mereka cetak berasal dari defleksi ganda di laga pembuka.
Melawan Maroko akhir pekan lalu, Skotlandia gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran—kejadian yang sama terakhir kali mereka alami di Piala Dunia 1986. Jika ditotal dengan Euro 2024, mereka hanya punya lima tembakan mengarah ke gawang dalam lima pertandingan turnamen terakhir.
Yang membuat situasi ini unik adalah matematika grup. Skotlandia bisa kalah 0-1, 0-2, bahkan 0-3 dari Brasil dan tetap melaju sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik. Mereka bahkan bisa bermain sangat defensif—memarkir bus, menyapu bola jauh-jauh, tanpa sekali pun mengancam gawang Brasil—dan hasilnya tetap sama: lolos.
"Jika Anda melihat Brasil di laga terakhir (melawan Haiti), sebelum turun minum skornya sudah 3-0," ujar asisten pelatih Steven Naismith di Charlotte, Minggu (18/6). "Jadi harus ada rencana permainan. Itu tidak berarti kami akan duduk di kotak 18 yard selama 90 menit, karena dengan kondisi cuaca dan lawan seperti ini, itu mustahil."
Cuaca di Miami diperkirakan jauh lebih panas dan lembab dibanding Boston. Mengharapkan Skotlandia bermain all-out seperti orang gila di rumah jagal adalah bentuk ketidakpahaman terhadap kondisi lapangan.
Steve Clarke mendapat kritik karena dianggap terlalu hati-hati saat melawan Maroko. Padahal, di akhir laga ia justru memasukkan empat pemain depan sekaligus: Lyndon Dykes, Ross Stewart, Scott McTominay, dan Ben Gannon-Doak. "Jika itu disebut hati-hati, sulit membayangkan seperti apa bentuk permainan agresif," tulis Tom English dalam analisisnya.
Pertanyaan besar yang kini mengemuka: apakah publik Skotlandia akan merayakan lolosnya timnas meski dengan satu kemenangan atas Haiti diikuti dua kekalahan? Atau justru sebaliknya, mereka menuntut performa heroik meski akhirnya gagal?
Naismith menegaskan timnya tidak akan asal bertahan. "Ada momen-momen dalam pertandingan di mana kami merasa mendominasi, maka kami harus mengambil risiko. Tapi akan ada juga momen sulit di mana kami harus membentuk pertahanan dan menunggu," katanya.
Skotlandia belum pernah mengalahkan Brasil sepanjang sejarah. Satu kemenangan, atau bahkan satu poin dari pertandingan Rabu nanti, sudah cukup untuk menciptakan pesta terbesar Tartan Army sejak 1998.